Mencipta Harmoni dalam Dominasi
Habitus Cina Benteng di Permukiman Kalipasir Tangerang
Keywords:
cina benteng, habituasi, hegemoni budaya, harmonisasi, sunda muslimAbstract
Penelitian ini menelaah bagaimana subkultur Cina Benteng membangun harmonisasi sosial di tengah dominasi budaya Sunda Muslim di Kalipasir, Tangerang. Fokus utamanya adalah adaptasi kelompok minoritas tanpa kehilangan identitas budaya. Dengan pendekatan kualitatif dan metode etnografi berbasis teori Bourdieu, penelitian ini mengungkap tiga proses habituasi. Pertama, internalisasi nilai dominan melalui adaptasi tradisi Peh Cun dengan unsur Sunda Muslim, partisipasi dalam ritual lokal, serta akulturasi seni Gambang Kromong dan Tari Cokek. Kedua, reflektivitas hegemoni budaya tampak dalam penggunaan bahasa Sunda oleh komunitas Cina Benteng. Ketiga, pembentukan habitus melalui interaksi sosial intens dan jejaring lintas kelompok yang memperkuat kohesi sosial. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun hidup dalam hegemoni budaya, Cina Benteng berhasil menciptakan hubungan harmonis berbasis kolaborasi dan toleransi. Studi ini memperkaya pemahaman tentang dinamika keberagaman dan strategi adaptasi budaya dalam masyarakat multikultural Indonesia.
This study examines how the Cina Benteng subculture sustains social harmony amid the cultural dominance of the Sunda Muslim community in Kalipasir, Tangerang. It focuses on how minority groups adapt while maintaining their cultural identity. Employing a qualitative ethnographic approach grounded in Bourdieu’s theory, the research identifies three habituation processes. First, dominant value internalization is seen in adapting Peh Cun traditions with Sunda Muslim elements, engaging in local rituals, and acculturating Gambang Kromong and Cokek Dance. Second, cultural hegemony reflexivity appears through the community’s use of the Sundanese language. Third, habitus formation develops via intensive social interactions and intergroup networks fostering social cohesion. The findings reveal that despite dominant culture, the Cina Benteng community achieves harmony through collaboration and tolerance. This study contributes to a deeper understanding of cultural diversity and adaptive strategies within Indonesia’s multicultural society.References
Bourdieu, P. (1977). Outline of Theory of Practices. London: Cambridge University Press.
Bourdieu, P. (1986). The Forms Of Capital. Dalam J. Richardson, Handbook of Theory and Research for the Sociology of Education (hal. 241-258). New York: Greenwood Press.
Bourdieu, P. (1990). In Other Words: Essays Towards a Reflexive Sociology. California: Stanford University Press.
Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. (R. Nice, Penerj.) California: Stanford University Press.
Harker, R. (Penyunt.). (2009). (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik "Pengantar Paling Komprehensif Kepada Pemikiran Pierre Bourdieu". Yogyakarta: Jala Sutra.
Kelurahan Sukasari. (2023). Monografi Kelurahan Sukasari Kota Tangerang. Tangerang: Kelurahan Sukasari.
Ningsih, W. L. (2023, Mei 12). Di Mana Saja Kerusuhan Mei 1998 Terjadi? Dipetik Januari 24, 2024, dari Kompas.com: https://www.kompas.com/stori/read/2023/05/12/190000279/di-mana-saja-kerusuhan-mei-1998-terjadi?page=all
Pemerintah Kota Tangerang. (2023, Oktober 18). Klenteng Boen Tek Bio, Klenteng Tertua dan Jadi Cagar Budaya Tionghoa di Kota Tangerang. Dipetik Februari 28, 2024, dari Situs Resmi Pemerintah Kota Tangerang: https://www.tangerangkota.go.id/berita/detail/38039/klenteng-boen-tek-bio-klenteng-tertua-dan-jadi-cagar-budaya-tionghoa-di-kota-tangerang
Pertiwi, M. (2021). Perkembangan Sentimen anti-Tionghoa di Indonesia. KAGANGA KOMUNIKA: Journal of Communication Science, 82-92. Diambil kembali dari https://doi.org/10.36761/kagangakomunika.v3i1.1062
Suryadinata, L. (2010). Etnis Tionghoa dan Nasionalisme Indonesia. Jakarta: PT Kompas Media Nusantara.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
License
Copyright (c) 2025 Faesa Raud Atfal, Rosnida Sari, Nurina Adi Paramitha

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Penulis yang menerbitkan jurnal ini menyetujui ketentuan berikut:
- Penulis memegang hak cipta dan memberikan hak publikasi pertama kepada jurnal dengan karya tersebut secara bersamaan dilisensikan di bawah Lisensi Atribusi Creative Commons yang memungkinkan orang lain untuk berbagi karya dengan pengakuan atas kepenulisan karya dan publikasi awal di jurnal ini.
- Penulis dapat mengadakan perjanjian kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari karya versi terbitan jurnal (misalnya, mempostingnya ke repositori institusi atau menerbitkannya dalam buku), dengan pengakuan atas publikasi awalnya pada tahun jurnal ini.
- Penulis diizinkan dan didorong untuk memposting karya mereka secara online (misalnya, di repositori institusi atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses penyerahan, karena hal ini dapat mengarah pada pertukaran yang produktif, serta kutipan karya yang diterbitkan lebih awal dan lebih banyak (Lihat The Pengaruh Akses Terbuka).
====================================================
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).






