FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA PADA SURVIVOR YANG DITANGANI OLEH LEMBAGA SAHABAT PEREMPUAN MAGELANG

Evi Tri Jayanthi *

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya Kekerasan dalam rumah tangga pada  survivor yang ditangani oleh Lembaga Sahabat Perempuan Magelang, bentuk-bentuk kekerasan yang dialami oleh survivor serta reaksi survivor  terhadap kekerasan yang dialaminya. Untuk membedah kasus kekerasan tersebut, peneliti menggunakan teori yang relevan dengan permasalahan, yaitu dengan menggunakan teori konflik, fungsionalisme struktural dan feminisme.

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif. Peneliti mengambil lokasi penelitian di Lembaga Sahabat Perempuan Magelang. Subyek Penelitian ini adalah tujuh survivor yang melapor ke Sahabat Perempuan antara tahun 2005-2008 serta seorang staf divisi Pengorganisasian dan Bantuan Hukum. Subyek penelitian tersebut diambil dengan menggunakan teknik purposive sampling. Dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara dan dokumentasi. Triangulasi sumber digunakan sebagai teknik dalam pemeriksaan keabsahan data. Langkah-langkah yang diambil dalam analisis data adalah reduksi data, unitasi dan kategorisasi, display data dan pengambilan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga pada  survivor adalah perselingkuhan, masalah ekonomi, budaya patriarki, campur tangan pihak ketiga, bermain judi, dan perbedaan prinsip. Faktor utama yang menyebabkan kekerasan dalam rumah tangga adalah perselingkuhan yang dilakukan suami dengan perempuan lain. Bentuk-bentuk kekerasan yang dialami oleh  survivor adalah kekerasan fisik (ditampar, dijambak, ditempeleng, diinjak-injak), kekerasan psikis (caci maki, ancaman), dan penelantaran rumah tangga. Beberapa survivor mengambil sikap diam atas kekerasan yang dialaminya. Hal ini dikarenakan mereka tidak mau terjadi peristiwa yang lebih parah lagi dan tidak menghendaki permasalahan semakin berlarut-larut. Selain bersikap diam, beberapa survivor bersikap melawan terhadap suami atas kekerasan yang menimpanya. Perlawanan tersebut sebagai upaya perlindungan atas serangan suami yang mengakibatkan luka fisik maupun nonfisik. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masih relevannya teori konflik, teori fungsionalisme struktural dan teori feminisme dengan kenyataan yang ada di masyarakat, yakni dalam mengkaji kekerasan dalam rumah tangga.

 

Kata kunci: kekerasan dalam rumah tangga, survivor, advokasi perempuan.


Full Text:

PDF

Article Metrics

Abstract views : 3535 | views : 1051

Refbacks

  • There are currently no refbacks.