Miskonsepsi materi larutan penyangga

 http://dx.doi.org/10.21831/jipi.v4i1.10029

Nurhidayatullah Nurhidayatulah(1*), Anti Kolonial Prodjosantoso(2),

(1) Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan Mataram
(2) Program Studi Pendidikan IPA, Program Pascasarjana, Universitas Negeri Yogyakarta
(*) Corresponding Author

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui miskonsepsi materi larutan penyangga, persentase miskonsepsi pada setiap indikator materi larutan penyangga, dan penyebab terjadinya miskonsepsi materi larutan penyangga pada siswa SMA Negeri 2 Mataram. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang melibatkan 80 siswa kelas XI IPA 4 dan XI IPA 5 SMA Negeri 2 Mataram sebagai sampel dalam penelitian yang ditentukan secara purposive sampling. Instrumen yang digunakan untuk menganalisis miskonsepsi larutan penyangga yaitu instrumen multiple choice two tier diagnostic. Instrumen di validasi oleh expert judgment dan validasi empirik oleh 38 siswa kelas XII IPA 2 SMA Negeri 2 Mataram.. Hasil analisis miskonsepsi larutan penyangga menggunakan instrumen two-tier multiple choice diagnostic menunjukkan bahwa terjadi miskonsepi sebesar 47%, memahami konsep sebesar 37%, dan tidak memahami konsep sebesar 16%. Miskonsepsi terbanyak terjadi pada indikator konsep perhitungan pH larutan penyangga pada penambahan sedikit asam atau basa sejumLah 4 soal yaitu dengan rata-rata 64,08%. Miskonsepsi larutan penyangga terjadi karena guru kurang menekankan materi konsep, khususnya pada indikator larutan penyangga pada kehidupan sehari-hari, bahasa buku teks kimia yang terlalu sulit, dan siswa sendiri yang kurang fokus saat proses pembelajaran.

 

Misconceptions on buffer solution

 

Abstract

This study aims to determine the misconception on buffer solution, the percentage of misconceptions on each indicator, and the cause of the misconception of the student of SMA Negeri 2 Mataram.This research is a qualitative descriptive study involving 80 students of class XI of physics study (IPA) 4 and XI 5 of SMAN 2 Mataram as samples determined by purposive sampling. The instrument used to analyze the misconceptions of the buffer solution is two-tier instrument diagnostic multiple choice. The instrument is validated by expert judgment and empirical validation by 38 students of class XII physic study (IPA) 2 SMA Negeri 2 Mataram. The results of the data analysis showed that there is 47% misconceptions, 37% understand and as many as 16% do not understand concept. Misconceptions occurred in the calculation of the indicator concept pH buffer solution in the addition of a small amount of acid or base in an average of 64.08%. The misconception of the buffer solution occurred because the teachers did not emphasize the concept of matter, particularly on indicators of the buffer solution in everyday life, the language of chemistry textbooks that are too difficult, and the students themselves are less focused during the learning process.


Keywords


miskonsepsi; two-tier multiple choice diagnostic; larutan penyangga; miskonsepsi, two-tier multiple choice diagnostic, larutan penyangga

Full Text:

FULLTEXT PDF

Article Metrics

Abstract views : 67 | views : 3

References


Adodo, S. O. (2013). Effects of two-tier multiple choice diagnostic assessment items on students’ learning outcome in basic science technology (BST). Academic Journal of Interdisciplinary Studies, 2(2), 201. Retrieved from http://www.mcser.org/journal/index.php/ajis/article/view/379

Arikunto, S. (2010). Prosedur penelitian: Suatu pendekatan praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bachman, E. (2005). Metode belajar berpikir kritis dan inovatif. Jakarta: Balai Pustaka.

Bayrak, B. K. (2013). Using two-tier test to identify primary students’ conceptual understanding and alternative conceptions in acid base. Mevlana International Journal of Education (MIJE), 3(2), 19–26. https://doi.org/10.13054/mije.13.21.3.2

Bayrak, B. K., & Bayram, H. (2011). Effects of problem-based learning in a web environment on conceptual understanding: the subject of acids and bases. International Online Journal of Educational Sciences, 3(3), 831–848.

Cetin-Dindar, A., & Geban, O. (2011). Development of a three-tier test to assess high school students’ understanding of acids and bases. Procedia - Social and Behavioral Sciences, 15, 600–604. https://doi.org/10.1016/J.SBSPRO.2011.03.147

Chiu, M. (2007). A national survey of students’ conceptions of chemistry in Taiwan. International Journal of Science Education, 29(4), 421–452. https://doi.org/10.1080/09500690601072964

Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. (2007). Pedoman pengembangan tes diagnostik mata pelajaran IPA SMP/MTs. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah.

Ediyanto, E. (2015). Pengembangan model penilaian formatif berbasis web untuk meningkatkan pemahaman konsep fisika. Jurnal Pendidikan Sains, 2(2), 63–75. https://doi.org/10.17977/jps.v2i2.4499

Kartinah, K. (2012). Penggunaan model pembelajaran generatif (MPG) untuk meningkatkan pemahaman konsep pada mahasiswa jurusan pendidikan matematika. AKSIOMA : Jurnal Matematika Dan Pendidikan Matematika, 2(1/Maret). https://doi.org/10.26877/aks.v2i1/maret.51

Khoiri, N., Farikhah, I., & Sucipto, U. (2012). Pemanfaatan projected motion media untuk meningkatkan pemahaman konsep mahasiswa pada mata kuliah ilmu pengetahuan bumi dan antariksa (IPBA). Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, 2(1/April). https://doi.org/10.26877/jp2f.v2i1/April.123

Kirna, I. M. (2010). Determinasi proposisi pembelajaran pemahaman konsep kimia melalui implementasi pembelajaran sinkronisasi kajian makroskopis dan submikroskopis. Jurnal Pendidikan Dan Pengajaran, 43(3), 185–191. https://doi.org/10.23887/JPPUNDIKSHA.V43I3.120

Kwen, B. H., & Cheng, A. K. (2005). Using two tier reflective multiple choice questions to cater to creative thinking. In AARE 2005 International Education Research Conference. Singapura: Nanyang Technological University. Retrieved from https://www.aare.edu.au/data/publications/2005/boo05235.pdf

Mulyadi, H. (2010). Diagnosis kesulitan belajar dan bimbingan terhadap kesulitan belajar khusus. Yogyakarta: Nuha Litera.

Nugraeni, D., Jamzuri, J., & Sarwanto, S. (2013). Penyusunan tes diagnostik fisika materi listrik dinamis. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(2). Retrieved from http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pfisika/article/view/2796

Orgill, M., & Sutherland, A. (2008). Undergraduate chemistry students’ perceptions of and misconceptions about buffers and buffer problems. Chem. Educ. Res. Pract., 9(2), 131–143. https://doi.org/10.1039/B806229N

Salirawati, D. (2011). Pengembangan instrumen pendeteksi miskonsepsi kesetimbangan kimia pada peserta didik SMA. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 15(2), 232–249. https://doi.org/10.21831/pep.v15i2.1095

Siswaningsih, W. (2014). Pengembangan tes diagnostik two-tier untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada materi kimia siswa SMA. Jurnal Pengajaran Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, 19(1), 117. https://doi.org/10.18269/jpmipa.v19i1.487

Sugiyono. (2006). Statistika untuk penelitian. Bandung: CV. Alfabeta.

Sugiyono. (2010). Metode penelitian kuantitatif kualitatif dan R & D. Bandung: Alfabeta.

Sulistyo, A., Emilda, A., Misriyah, A., Wijaya, C., & Ary W, I. (2011). Makalah penelitian deskriptif dan survai. Semarang. Retrieved from http://anitamisriyahmissy.blogspot.co.id/2011/

Suwarto, S. (2010). Pengembangan the two-tier diagnostic tes pada bidang biologi secara terkomputersisasi. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 14(2). https://doi.org/10.21831/pep.v14i2.1079

Syayidah, L. (2010). Peningkatan pemahaman konsep gerak menggunakan media CD dengan pendekatan konstruktivistik kelas VII B semester 2 SMP Kesatrian 1 Semarang tahun ajaran 2009/2010. Jurnal Penelitian Pembelajaran Fisika, 1(2). https://doi.org/10.26877/jp2f.v1i2/septembe.117

Tan, K.-C. D., Taber, K. S., Goh, N.-K., & Chia, L.-S. (2005). The ionisation energy diagnostic instrument: A two-tier multiple-choice instrument to determine high school students’ understanding of ionisation energy. Chemistry Education Research and Practice, 6(4), 180–197. Retrieved from http://www.rsc.org/images/Tanpaper_tcm18-41069.pdf

Tüysüz, C. (2009). Development of two-tier diagnostic instrument and assess students’ understanding in chemistry. Scientific Research and Essay, 4(6), 626–631. Retrieved from http://www.academicjournals.org/SRE

Wahyuningsih, T., Raharjo, T., & Masithoh, D. F. (2013). Pembuatan Instrumen tes diagnostik fisika SMA kelas XI. Jurnal Pendidikan Fisika, 1(1), 111–117. Retrieved from http://jurnal.fkip.uns.ac.id/index.php/pfisika/article/view/1785

Wijaya, M. H., Suratno, S., & HP, A. (2013). Pengembangan tes diagnostik mata pelajaran IPA SMP. Jurnal Penelitian Dan Evaluasi Pendidikan, 17(1), 19–36. https://doi.org/10.21831/pep.v17i1.1359

Zimrot, R., & Ashkenazi, G. (2007). Interactive lecture demonstrations: A tool for exploring and enhancing conceptual change. Chemistry Education Research and Practice, 8(2), 197–211. Retrieved from http://www.rsc.org/images/Ashkenazi paper2 final_tcm18-85042.pdf




 http://dx.doi.org/10.21831/jipi.v4i1.10029

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Inovasi Pendidikan IPA

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Inovasi Pendidikan IPA indexed by:

Creative Commons License
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA by http://journal.uny.ac.id/index.php/jipi/index is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

All rights reserved. p-ISSN: 2406-9205 | e-ISSN: 2477-4820

View My Stats