KESENIAN NANDUNG DI MASYARAKAT MELAYU KOTA RENGAT KABUPATEN INDRAGIRI HULU PROVINSI RIAU (KAJIAN SEMIOTIKA)

 Rofiandri Suardi

Abstract


Nandung adalah salah satu sastra lisan yang ada di Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Nandung dilantunkan oleh ibu-ibu yang ingin menidurkan anaknya di dalam buaian. Isi syair nandung adalah tentang pengajaran agama, kasih sayang orang tua, pengajaran dan pendidikan, akhlak mulia, dan nasehat-nasehat. Pengkajian makna dalam syair nandung ini menggunakan teori semiotika, yakni memahami tanda dari sintaksis, semantik dan pragmatik. Hasil kajian dari syair nandung ini adalah pertama tentang sintaksis, yaitu tentang teks, terdapat 4 baris kalimat pada 1 bait yang serupa dengan pantun, dengan bait yang tersusun dari sampiran dan isi, dengan berpola a b dan a b. Kedua, tentang semantik, membahas tentang arti kata/bahasa, bahwa syair nandung memiliki arti tentang petuah agama, kasih sayang orang tua, akhlak mulia, pengajaran dan pendidikan, serta nasehat. Konsep ketiga yaitu pragmatik, membahas tentang makna dari hubungan antara teks dan arti kata/bahasa, bahwa yang diharapkan dari syair nandung ini adalah agar kelak anak-anak menjadi orang yang patuh kepada agama, orang tua, serta menjalani kehidupan dengan akhlak yang mulia. Makna yang terdapat dalam syair nandung ini adalah dalam menjalani kehidupan harus berpegang teguh pada agama, selalu melakukan kebaikan, mengingat jasa-jasa orang tua yang telah mendidik dan membesarkan anaknya, dan melakukan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. 

Kata kunci: nandung, makna, semiotika Aart Van Zoest.

 

A SEMIOTIC STUDY ON NANDUNG ART IN MELAYU COMUNITY IN RENGAT CITY, INDRAGIRI HULU DISTRICT, RIAU PROVINCE 

Abstract 

Nandung is one of the existing oral literatures in Rengat City, Indragiri Hulu Regency of Riau Province. Nandung is sung by mothers who want to put their children sleeping in the cradle. The contents of this poem are about the teaching of religion, parental love, teaching and educating, noble character, and advice. To study the meaning of this poem is by using the semiotics theory of Aart Van Zoest, about understanding of syntactical, semantic and pragmatic signs. The first result of the analysis of this poem is about syntax, which is about the text, there are 4 lines of sentences in a stanza similar to the pantun, with stanzas composed of sampiran (introduction) and contents, patterned a b and a b. The second concept is semantics, discusses about the meaning of the word/language, that poem has a meaning about religious advice, parental affection, noble character, teaching and education, and advice. The third concept is pragmatic, discusses about the meaning contained from the relationship between text and the meaning of words / language, that is expected from this poem is children could become obedient to religion, to parents, and live a life with a morally noble. The meaning contained in this poem is living a life must stickle to religion, always do good, considering the love of parents who have educated and reared their children, and do all the commands of Allah and stay away from all his prohibitions. 

Keywords: nandung, meaning, semiotics, Aart Van Zoest.

Full Text:

PDF

References


Darmawi, Ahmad. 2006. Sastra Lisan Nandung Indragiri Hulu. Riau. Penerbit : Lembaga Seni Budaya Melayu.

Firduansyah, Dedy. DKK. 2016. Guritan: Makna Syair dan Proses Perubahan Fungsi Pada Masyarakat Melayu di Besemah Kota Pagaralam. Pascasarjana Pendidikan Seni. Universitas Negeri Semarang.

Kriyantono, Rachmat. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta. Penerbit: Kencana.

Littlejohn, Stephen W. 2009. Teori Komunikasi Theories of Human Communication edisi 9. Jakarta. Salemba Humanika.

Novendra. 2010. Kesenian Tradisional Masya- rakat Melayu Provinsi Riau. Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Penerbit: Kementerian Budaya dan Pariwisata Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional.

Rusmana, Dadan. 2014. Filsafat Semiotika: Paradigma, Teori, dan Metode Interpretasi Tanda dari Semiotika Struktural Hingga Dekonstruksi Praktis. Bandung. Penerbit: Pustaka Setia.

Saharan, DKK. 2011. Sinopsis Cagar Budaya dan Seni Budaya Daerah Kabupaten Indragiri Hulu. Dinas Pemuda Olahraga Budaya dan Pariwisata Kabupaten Indragiri Hulu. Riau

Sahid, Nur. 2016. Semiotika untuk Teater, Tari, Wayang Purwa, dan Film. Semarang. Penerbit : Gigih Pustaka Mandiri.

Subroto, Edi. 2011. Pengantar Studi Semantik dan Pragmatik (Buku 1. Pengantar Studi Semantik). Surakarta. Penerbit: Cakrawala Media.

Sunarto. 2016. 8 Tokoh Semiotika. Yogyakarta. Penerbit: Panta Rhei Books.

Van Zoest, Art. 1993. Semiotika Tentang Tanda, Cara Kerjanya, dan Apa yang Kita Lakukan Dengannya. Jakarta. Penerbit: Yayasan Sumber Agung Press.




DOI: https://doi.org/10.21831/imaji.v15i2.18297

Refbacks

  • There are currently no refbacks.




Copyright (c) 2018 Imaji

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Our Journal has been Indexed by:

 Creative Commons License

website statistics View My Stats